Ultraman Adalah Teman Bertumbuh dan Berkembang

Dulu semasa Taman Kanak-kanak (TK), saya punya sahabat baik bernama Ultraman. Terdengar aneh, tapi nyata adanya kalau Ultraman ada di setiap hari kehidupan saya. Sebenarnya saya juga gemar menyaksikan Power Ranger dan beberapa anime yang biasa ditayangkan di saluran televisi Indosiar setiap Minggu pagi. Seperti Dragon Ball, Pokemon, Digimon, Kamen Rider, Digimon dan masih banyak lagi. Tayangan-tayangan di saluran RCTI juga gak kalah seru.

Sebenernya hampir semua ultraman adalah favorit saya, pokoknya yang berbau ultraman saya suka saya suka. Namun, hanya beberapa ultraman yang benar-benar saya gandrungi, bahkan hingga saat ini. Ultraman itu adalah Ultraman Gaia dan Cosmos. Sebenarnya ada beberapa ultraman lain juga yang merupakan favorit saya, namun bukan yang top of my mind, yakni Ultraman Tiga dan Ultraman Dyna.

Sampai saat ini, hal-hal yang berbau ultraman masih ada di hidup saya, seperti mainan, lagu, film, dan lain-lain. Kebetulan juga akhir-akhir ini fyp TikTok, rekomendasi Youtube, dan explore Instagram saya selalu lewat konten-konten yang membahas ultraman secara lebih mendalam. Banyak informasi-informasi baru soal Ultraman yang saya baru.

Masa Kecil Bersama Ultraman

Kembali ke masa kecil saya ada banyak faktor dan cerita yang saya ingat soal ultraman. Pertama, saya punya puluhan compact disk (CD) seriesseries ultraman. Satu series ultraman, saya bisa punya belasan sampai puluhan CD dengan episode yang berbeda. CD yang dibeli dari toko CD di Jalan Mataram timur Jalan Malioboro.

Kedua, bangun pagi karena ultraman. Sejak TK saya memang terbiasa bangun pagi untuk melakukan sholat subuh atau minimal bisa bangun sekitar pukul 6 pagi untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Karena anak kecil susah bangun, papa saya punya cara sendiri untuk membangunkan saya supaya lebih mudah bangun pagi. Caranya adalah nyetel CD ultraman yang udah saya punya sebelumnya, paling sering Ultraman Gaia. Ketika lagu opening mulai di saat itu lah Hanif memulai hari dengan kekuatan ultraman.

Ketiga, tidur bersama ultraman dan monster-monster yang dihadapinya. Dulu saya punya satu poster ultraman dengan bahan kardus abu-abu, yang isinya banyak gambar ultraman dan moster-monster tapi dalam bentuk kolase. Poster tersebut sama dengan milik salah satu teman satu gang. Karena poster berbentuk kolase, dia potong-potong poster itu jadi seukuran kartu dan dia mengajak saya untuk melakukan hal yang sama, tapi, saya menolak. Alasannya sederhana, karena eman-eman aja. Namun, kata ibu saya “Hanif gamau potong posternya soalnya biar ada temen tidurnya” Hingga saat kini, saya masih excited nonton series ultraman bahkan ultraman-ultraman sejak tahun 60an. Terimakasih Ultraman sudah menemani saya tumbuh dewasa <3.

Tinggalkan komentar